Perjalanan panjang menuju “New Zealand” (Part 4)

Standar

Mohon maaf, baru sempat dilanjut tulisan saya. Alhamdulillah saya sudah menyelesaikan thesis saya dan saat ini sudah kembali ke tanah air.🙂

…… Saya senang sekali ketika membaca email dari PT Austraining Nusantara tersebut, sekaligus merasa deg-deg’an sebetulnya. Memang, ini bukan pengalaman pertama saya dipanggil tes wawancara beasiswa, namun tetap saja perasaan nervous, dan takut tetap ada, takut gagal maksudnya..🙂. Saya berusaha mempersiapkan sebaik mungkin sebisa saya, disela-sela kesibukan pekerjaan di kantor dan mengurus keluarga. Banyak pula yang menanyakan kepada saya, kira-kira apa saja persiapan saya saat itu menghadapi tes wawancara beasiswa NZ-AS. Berikut sedikit saya share persiapan saya:

1. Membaca ulang berkas-berkas lamaran beasiswa.

Ini penting sekali. Walau kita sudah tahu betul apa yang kita tuliskan dan jabarkan di berkas beasiswa, manusia tak lepas dari sifat lupa. Lagipula, dengan membaca lamaran beasiswa tersebut kita bisa menebak-nebak kira-kira ke arah mana pertanyaan si pemberi beasiswa. Saya baca ulang formulir isian saya, CV, proposal riset, hingga surat-surat rekomendasi dari atasan serta dosen saya. Benarlah, ketika wawancara saya banyak dikejar di pengalaman kerja dengan atasan-atasan saya tersebut, rencana penelitian saya di universitas tujuan, apa yang bisa saya lakukan di sana dengan pengalaman-pengalaman saya tersebut? dan apa yang kira-kira dapat saya sumbangkan untuk Indonesia dengan ilmu pengetahuan dan riset yang saya lakukan di sana. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul karena latar belakang saya sebagai peneliti, dan (Insyaallah) akan kembali menjadi peneliti saat saya kembali ke tanah air.

2. Perkaya diri dengan informasi tentang New zealand secara umum, dan kota yang dituju secara khusus. Suatu nilai lebih jika kita juga dapat menceritakan pengetahuan kita tentang kerjasama Indonesia-New Zealand. Saat itu saya menambahkan beberapa statement yang mengkaitkan tentang hubungan kerjasama yang baik Indonesia-New Nealand dengan kenapa saya ingin belajar di sana.

3. Siapkan antisipasi jawaban untuk pertanyaan sederhana dan mudah namun tidak simpel untuk dijawab (bingung kan?? he he). Terutama, untuk kondisi darurat yang mungkin terjadi selama di sana karna ‘kondisi kita’. Contoh, saya perempuan yang telah berkeluarga, punya suami dan anak yang sudah saya jelaskan di formulir bahwa mereka ikut ke Auckland. Saya sudah menebak pertanyaan seperti: Lalu, bagaimana mengatasi kekurangan dana kebutuhan hidup selama di sana?? Bagimana anak anda di sana? siapa yang merawat? daycare? uangnya dari mana? untuk mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan seperti itu saya berusaha tidak hanya mencari jawaban yang benar, tetapi cara menjawab yang baik dimana terkesan bijaksana, tetap mengutamakan studi, namun tidak mengabaikan keluarga. Yakinkan mereka bahwa kita bisa membagi waktu, dan kita akan selesai tepat waktu. Bisa di-share juga pengalaman kita di kondisi serupa.🙂

4. Latihan menjawab pertanyaan dengan bahasa Inggris🙂. kalo yang satu ini memang untuk melatih kepercayaan diri saya karna bahasa Inggris saya ga terlalu bagus.

Saya rasa persiapan saya itu saja. Saya berusaha tidur cepat malam harinya supaya besoknya segar. Saya juga berusaha memakai baju batik (sekaligus menunjukkan budaya Indonesia). Saya berangkat pagi-pagi sekitar jam 6.00 supaya nanti ada waktu luang lebih untuk menenangkan diri (ga nervous). Saya sampai di gedung Kedutaan New Zealand pukul 07.30 dan menunggu hingga gedung dibuka (LoL kepagian bgt). saya sempat bertemu 1 orang peserta wawancara juga, jadi kita sedikit banyak bisa cerita-cerita tentang aplikasi beasiswa dan saling menebak-nebak kira2, bagaimana wawancara berlangsung.

Jam 09.00 tepat saya dipanggil masuk ke ruangan wawancara. Sebuah ruangan cukup luas 5 x 10 meter, dan 2 orang pewawancara sudah duduk dan sedang berdiskusi di dalam. Mereka berdiri dan tersenyum ramah saat saya masuk. Pewawancara terdiri dari 1 orang wanita Indonesia (perwakilan dari kedutaan NZ) dan 1 orang pria bule kiwi (perwakilan dari NZ-AS). tararaaammm dan pewawancara kiwi itu menyapa dengan bahasa Indonesia fasihh!! saya lupa namanya, tapi orangnya baik dan sangat ramah! Beliau menjelaskan bahwa seharusnya pewawancara ada 3, namun yang 1 tidak bisa hadir (saya lupa alasannya, entah ada rapat penting mendadak atau apa gitu).

Wawancara saya berjalan lancar, dan santai. Alhamdulillah tidak ada kesulitan berarti, Alhamdulillah bisa terjawab dengan baik semua pertanyaan. Prediksi pertanyaan-pertanyaan saya banyak yang ditanyakan. Di akhir wawancara mereka menanyakan score IELTS saya yang masih kurang, dan mereka menanyakan apa saya bersedia tes IELTS lagi jika diterima? Saya menjawab Iya, saya bersedia. Namun, mereka juga menjanjikan akan memberika kursus bahasa Inggris ke saya kalau nilai IELTS saya masih belum terpenuhi. Alhamdulillah saya keluar dari ruangan dengan senyum lega sambil berdoa hasil yang terbaik dalam mendapatkan beasiswa ini.🙂

4 responses »

  1. salam kenal, mbak. saya wahyu, tinggal di kupang. saya baru saja menerima balasan dari NZ ttg beasiswa ke sana. apakah uang beasiswanya cukup jika saya membawa seorang anak, untuk makan sehari-hari, dan biaya sekolah anak. mohon di reply ya mbak…terima kasih banyak.

    • Mbak, saya sudah add facebook nya ya… kita lanjut ngobrol di facebook aja lebih lanjutnya. saya nanti rekomendasikan ke teman yang saat itu ambil S3 dengan membawa 1 putra.
      Mbak ambil jurusan apa di univ mana dan kota mana? karna ini menentukan juga brp kira2 pengeluaran. kalo saya di Auckland, Jika tanpa bekerja, teori nya sih cukup yah. dengan catatan: Makan sederhana, tinggal d apartemen ala kadarnya, dan mengingat sekolahnya gratis. tapi prakteknya sepertinya agak sulit membuat dana tersebut cukup dalam sebulan, apalagi membawa anak kadang ada kebutuhan tak terduga. Kalo saya kan dulu ada suami yang bekerja jadi bisa di’support dari gaji suami. Maka, mbak wahyu nanti saya masukan grup PPI NZ dan saya kenalkan ke teman saya yang punya pengalaman membawa 1 anak.

  2. Assalamualaikum mba Nurfina, saya tari dari Depok.. saya sekarang mahasiswa semester 4 di akademi pimpinan perusahaan jakarta mbak, program d3.. kalau beasiswa dari NZ itu bisa buat meneruskan ke s1 ngga mba? sebentar lagi saya lulus.. jadi sedang cari cari beasiswa untuk meneruskan s1.. terimakasih

    • Waalaikumsalam…

      Salam kenal mbak tari…
      Setahu aku, beasiswa pemerintah NZ yaitu NZAS tidak menawarkan beasiswa untuk meneruskan s1 dari D3. Hanya S2 dan s3 saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s