Cerita di Sepenggal Perjalananku

Standar

Siang ini aku duduk di sebuah bangku kayu stasiun Solo Balapan, sembari menanti kereta
Banyubiru yang akan membawaku ke Semarang. Aku sedang melihat-lihat dan menikmati
suasana yang ada di sekitarku ketika pandanganku mampir pada seorang bapak pegawai Kereta
Api yang tengah duduk mengobrol dgn beberapa pedagang asongan. Sesaat, dia menyadari arah
pandanganku kepadanya. Dia malah tersenyum padaku dan berjalan mendekatiku.
Jika dilihat, ku taksir bapak itu sepertinya sudah brusia skitar 50 tahunan. Beliau
kemudian trsenyum dngan ramah dan menyapaku dengan pertanyaan standar, “mau kemana
mbak?” kemudian dilanjutkan dengan pertnyaan lain yang ya.. cukup standar untuk membuka
sebuah obrolan di stasiun, berkisar tentang kereta api, kota asal, kuliah, hingga tibalah saat ia
bercerita tentang keluarga.
Ketika itulah, akhirnya aku mengetahui bahwa beliau adalah ayahanda dari Bagus Dwi
seorang kameramen ‘Jejak Petualang’ yang hilang di papua sekitar 3 tahun silam. Beliau
menceritakan bagaimana perahu boat yang dtumpangi anakny terbalik hingga usahanya mencari
anaknya di laut daerah papua. Beliau juga mengisahkan sifat anaknya, dan hobi anaknya yang
memang menarik itu, gemar brkegiatan alam. Bulan juli yang lalu adalah upacara peringatan 3
tahun hilangnya bagus yang digelar oleh Trans 7. Beliau datang ke sana dengan rasa haru, walau
masih brtanya-tanya.. “Masih hidupkah Bagus? Atau sudah sudah kembali ke pangkuan Tuhan?
Beliau sudah pasrah, karena semua hal pasti kembali ke sang Pencipta, Pemilik semua yang ada
di alam semesta. Aku termenung mendegar cerita beliau. Terharu. Karena dahulu aku hanya
mendengar kisah itu dari pembawa acara d televisi. Ketika aku brcerita bahwa aku mempunyai
minat di bidang jurnalistik dan sudah melamar di beberapa stasiun TV nasional, beliau
mendukung. Tidak ada dendam dalam kata-katanya walau anaknya sudah hilang karena
pekerjaan di dunia tersebut. Beliau berkata bahwa, dunia jurnalis penuh dengan tantangan,
menarik, dan membuat kita terus berkembang dan kreatif.
Keretaku datang, dan akhirnya aku harus mengucapkan salam perpisahan. Beliau
menyalamiku dan berkata semoga sukses di awal masa-masaku berkarir, terutama di dunia
jurnalis. Salut sama bapak. Mungkin waktu tiga tahun telah menyembuhkan luka beliau, dan kini
ia tetap tegar walau tetap menunggu anaknya pulang ke rumah seperti dahulu.
_Solo Balapan 1 Agustus 2009_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s