I will survive….

Standar

Perjalananku menapaki hidup di kota Bekasi nampaknya mulai memasuki masa-masa yang sulit.:( Entah, rasanya aku masih suka membanding bandingkan antara kehidupan lamaku di Jogja, dan kehidupan baruku di Bekasi. Padahal jelas, ke duanya tak bisa dibandingkan. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Jikapun aku bisa mengatakan bahwa “Aku belum betah tinggal di Bekasi…” Yah.. mungkin itu benar adanya. Setiap orang punya masa-masa sulit dalam menjalani sesuatu. Entah itu jatuh di awal, tengah atau pun akhir perjalanan. Aku dapat merasakan masa masa sulit untuk biasa terjadi di awal, seperti saat ini yakni saat aku mulai menjalani kehidupan baruku sebagai pekerja dan hidup di daerah ibukota. Aku seperti flash back ke masa yang lalu, saat aku mengalami masa sulit di awal waktu kuliahku. Aku kesulitan mengikuti mata pelajaran yang diajarkan di jurusan Fisika UGM. Nilaiku hancur terpuruk. Wah… rasanya aku sudah akan hengkang untuk kuliah di lain tempat, yakni di STT Telkom atau NHI Bandung. Tapi, saat itu aku berpikir bahwa saat itu adalah awal masa pendewasaanku.:( Adanya masa sulit itu di awal adalah sebagai cobaan. Kenapa aku harus lari dari masalah itu? Kenapa tidak aku hadapi dengan sepenuh hati. Toh, masalah seperti itu dapat terjadi lagi kapanpun dan dimanapun. Apa jadinya jika aku selalu lari?? Akhirnya aku jalani semuanya. Aku hadapi kesulitan itu dengan tetap bersemangat dan mencoba mencari penyebab, Kenapa hal itu terasa sulit buatku? Aku mencoba untuk lebih mencintai bidangku. Karena menurutku, cinta, suka, sayang atau apapun kata ganti terhadap minat adalah awal dimana kita akhirnya mau untuk belajar terhadap bidang itu dengan ikhlas. Dari situlah akhirnya ak mampu bangkit, dan memperbaiki cara belajar dan nilai (otomatis).🙂

Saat ini, aku ingin menggunakan cara yang sama… Aku sedang berusaha untuk membangkitkan rasa cintaku pada pekerjaan, pada kota ini, dan pada pola hidupku. Aku tidak mau menyerah kalah. Aku mau berusaha. Rasanya memang lebih sulit daripada dahulu….. Karna saat ini aku sendirian, tanpa teman berbagi cerita seperti dahulu di Yogyakarta. “Forget all memories behind, Face the future….” itu nasihat kakakku. Mungkin, aku bisa sedikit memperhalus kalimat itu. Karena aku tidak ingin melupakan. Tapi, mungkin bisa diganti… “Masa lalu jangan terlalu diingat, hingga akhirnya menghambat masa depan…” Mungkin begitu ya? hehe… Lalu, kata temanku yang lain bahwa “Kita harus dapat keluar dari zona aman. Jika tidak keluar… kapan kita akan bisa berkembang menjadi lebih dewasa dan lebih berani menghadapi hidup!” Nice! Itu juga benar. Oleh sebab itulah, aku mencoba untuk tetap survive… :d

So, I will survive no matter how hard it is. Itu kulakukan untuk melatih diriku. Demi ayah dan Ibuku juga. Demi masa depan yang lebih baik. Bismillah……. I know that Allah will keep me. And I believe that Allah will always be close to me…🙂     V(^_^)V Ganbatte ne Fina Chan……..!

2 responses »

  1. finaa…
    sama aku juga masih berjuang untuk mencintai lagi kota yang telah kutinggal selama 4 tahun ini, belajar mencintai pekerjaanku, belajar untuk gak cepat menyerah..
    semangat fin..

    kita pasti berhasil melewati tahap ini…
    apalagi kamu aku yakin bged dah! semangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s