Perjalanan panjang menuju “New Zealand” (Part 4)

Standar

Mohon maaf, baru sempat dilanjut tulisan saya. Alhamdulillah saya sudah menyelesaikan thesis saya dan saat ini sudah kembali ke tanah air. :)

…… Saya senang sekali ketika membaca email dari PT Austraining Nusantara tersebut, sekaligus merasa deg-deg’an sebetulnya. Memang, ini bukan pengalaman pertama saya dipanggil tes wawancara beasiswa, namun tetap saja perasaan nervous, dan takut tetap ada, takut gagal maksudnya.. :). Saya berusaha mempersiapkan sebaik mungkin sebisa saya, disela-sela kesibukan pekerjaan di kantor dan mengurus keluarga. Banyak pula yang menanyakan kepada saya, kira-kira apa saja persiapan saya saat itu menghadapi tes wawancara beasiswa NZ-AS. Berikut sedikit saya share persiapan saya:

1. Membaca ulang berkas-berkas lamaran beasiswa.

Ini penting sekali. Walau kita sudah tahu betul apa yang kita tuliskan dan jabarkan di berkas beasiswa, manusia tak lepas dari sifat lupa. Lagipula, dengan membaca lamaran beasiswa tersebut kita bisa menebak-nebak kira-kira ke arah mana pertanyaan si pemberi beasiswa. Saya baca ulang formulir isian saya, CV, proposal riset, hingga surat-surat rekomendasi dari atasan serta dosen saya. Benarlah, ketika wawancara saya banyak dikejar di pengalaman kerja dengan atasan-atasan saya tersebut, rencana penelitian saya di universitas tujuan, apa yang bisa saya lakukan di sana dengan pengalaman-pengalaman saya tersebut? dan apa yang kira-kira dapat saya sumbangkan untuk Indonesia dengan ilmu pengetahuan dan riset yang saya lakukan di sana. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul karena latar belakang saya sebagai peneliti, dan (Insyaallah) akan kembali menjadi peneliti saat saya kembali ke tanah air.

2. Perkaya diri dengan informasi tentang New zealand secara umum, dan kota yang dituju secara khusus. Suatu nilai lebih jika kita juga dapat menceritakan pengetahuan kita tentang kerjasama Indonesia-New Zealand. Saat itu saya menambahkan beberapa statement yang mengkaitkan tentang hubungan kerjasama yang baik Indonesia-New Nealand dengan kenapa saya ingin belajar di sana.

3. Siapkan antisipasi jawaban untuk pertanyaan sederhana dan mudah namun tidak simpel untuk dijawab (bingung kan?? he he). Terutama, untuk kondisi darurat yang mungkin terjadi selama di sana karna ‘kondisi kita’. Contoh, saya perempuan yang telah berkeluarga, punya suami dan anak yang sudah saya jelaskan di formulir bahwa mereka ikut ke Auckland. Saya sudah menebak pertanyaan seperti: Lalu, bagaimana mengatasi kekurangan dana kebutuhan hidup selama di sana?? Bagimana anak anda di sana? siapa yang merawat? daycare? uangnya dari mana? untuk mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan seperti itu saya berusaha tidak hanya mencari jawaban yang benar, tetapi cara menjawab yang baik dimana terkesan bijaksana, tetap mengutamakan studi, namun tidak mengabaikan keluarga. Yakinkan mereka bahwa kita bisa membagi waktu, dan kita akan selesai tepat waktu. Bisa di-share juga pengalaman kita di kondisi serupa. :)

4. Latihan menjawab pertanyaan dengan bahasa Inggris :). kalo yang satu ini memang untuk melatih kepercayaan diri saya karna bahasa Inggris saya ga terlalu bagus.

Saya rasa persiapan saya itu saja. Saya berusaha tidur cepat malam harinya supaya besoknya segar. Saya juga berusaha memakai baju batik (sekaligus menunjukkan budaya Indonesia). Saya berangkat pagi-pagi sekitar jam 6.00 supaya nanti ada waktu luang lebih untuk menenangkan diri (ga nervous). Saya sampai di gedung Kedutaan New Zealand pukul 07.30 dan menunggu hingga gedung dibuka (LoL kepagian bgt). saya sempat bertemu 1 orang peserta wawancara juga, jadi kita sedikit banyak bisa cerita-cerita tentang aplikasi beasiswa dan saling menebak-nebak kira2, bagaimana wawancara berlangsung.

Jam 09.00 tepat saya dipanggil masuk ke ruangan wawancara. Sebuah ruangan cukup luas 5 x 10 meter, dan 2 orang pewawancara sudah duduk dan sedang berdiskusi di dalam. Mereka berdiri dan tersenyum ramah saat saya masuk. Pewawancara terdiri dari 1 orang wanita Indonesia (perwakilan dari kedutaan NZ) dan 1 orang pria bule kiwi (perwakilan dari NZ-AS). tararaaammm dan pewawancara kiwi itu menyapa dengan bahasa Indonesia fasihh!! saya lupa namanya, tapi orangnya baik dan sangat ramah! Beliau menjelaskan bahwa seharusnya pewawancara ada 3, namun yang 1 tidak bisa hadir (saya lupa alasannya, entah ada rapat penting mendadak atau apa gitu).

Wawancara saya berjalan lancar, dan santai. Alhamdulillah tidak ada kesulitan berarti, Alhamdulillah bisa terjawab dengan baik semua pertanyaan. Prediksi pertanyaan-pertanyaan saya banyak yang ditanyakan. Di akhir wawancara mereka menanyakan score IELTS saya yang masih kurang, dan mereka menanyakan apa saya bersedia tes IELTS lagi jika diterima? Saya menjawab Iya, saya bersedia. Namun, mereka juga menjanjikan akan memberika kursus bahasa Inggris ke saya kalau nilai IELTS saya masih belum terpenuhi. Alhamdulillah saya keluar dari ruangan dengan senyum lega sambil berdoa hasil yang terbaik dalam mendapatkan beasiswa ini. :)

Perjalanan panjang menuju “New Zealand” (Part 3)

Standar

Di tengah-tengah diklat fungsional yang padat jadwal dan tugas… saya menerima hasil Test IELTS. Hasilnya: Tarararammmm…. Overall score 6.0 no band less than 5.5. Alhamdulillah.. cukup puas, bukan apa2… yang penting syarat beasiswa dulu, untuk Universitas bakal saya kejar lagi setelahnya. Selesai diklat mulailah saya fokus pada berkas2… berkas Aplikasi NZ-AS itu termasuk yang paling banyak dan ribet. tapi prinsip saya: Semakin Ribet semakin bagus, karena banyak saingan juga yang bakal mundur/mungkin karena ga lolos seleksi berkas saking ribet dan banyak yg harus dilengkapi. hehehehe.. Jadi… saya berusaha selengkappp mungkin! Berikut link menuju seleksi NZAS 2014/2015:

http://www.nzembassy.com/indonesia/relationship-between-new-zealand-and-indonesia/development-cooperation/asean-scholarships

Ga ada tips khusus tembus beasiswa ini. Cukup tolong bener2 ikuti apa syarat2nya…. Ketika dikatakan minimal pengalaman kerja 2 tahun, ya kalo pengalamannya kurang dari itu, berarti peluang lolos tipis kecuali kandidat tersebut benar2 mengusung Tema riset/jurusan yang menjadi bidang pokok sasaran beasiswa ini (i.e. Geothermal, disaster risk management, agriculture, dan renewable energy). Contoh seperti saya yang tidak apply di jurusan bidang pokok tsb, Saya ambil Jurusan Fisika The University of Auckland, bidang khusus: THz spectroscopy. Tapi saya memenuhi semua kriteria yang lain: Saya PNS, pengalaman kerja 2 tahun, Saya wanita (Women candidates are encouraged to apply), dan saya sudah punya supervisor yang sudah dengan rutin saling komunikasi. Oh ya, saya juga sudah punya conditional offer letter (masih conditional karena IELTS saya belum 6.5), kemudian saya mengantongi 3 surat rekomendasi dari 3 doktor di kantor (yang juga atasan saya), serta profesor (dosen) saya sewaktu S1. Surat rekomendasi dari atasan dan dosen pembimbing S1 ini sangat penting! jangan sampe terlewat, karena saya melewatkan syarat dosen S1 tersebut kemudian saya tanyakan pada mereka apa hal itu masih bisa menjadi pertimbangan jika saya tidak menyertakan surat rekomendasi dr dosen, mereka bilang tidak. dan saya tetap harus menyertakan, walau saat itu harus disusulkan melalui email

Saya mengirimkan aplikasi H-1 sebelum tutup, karena menunggu surat rekomendasi lain2 dari kantor. Tiki dan JNE punya layan YES/1 hari sampai, tapi mereka tidak bisa ke PO BOX. Akhirnya saya ke Kantor POs yang tidak janji 1 hari sampe. Resiko itu saya ambil, paling tidak Cap Pos tetap masih tercatat sebelum deadline. Setelah mengirimkan ke kantor pos… rasanya Lega… dan terus berdoa mudah2an dapat diterima oleh pihak panitia dengan baik serta bisa terseleksi dan diterima…

Hari demi hari…. tak kunjung ada berita. Saya apply beasiswa tersebut sekitar April 2012. Hingga Agustus akhir belum ada pengumuman. Hingga akhirnya salah satu teman saya, yang juga apply beasiswa tersebut bilang kalau dia sudah dapat email penolakan. nah loh.. makin galau belum ada berita. Saya cuma berpikir, dulu saat saya ikut seleksi beasiswa TOTAL, saya mendapat surat penolakan lebih cepat daripada teman yang ditelpon karena diterima. Saya berharap hal yang sama.. hmmm…. hingga suatu hari di bulan September (kalau tidak salah minggu pertama September) saya ditelpon dari pihak NZAS untuk wawancara per-telpon. Saat itu saya sedang rapat bulanan bidang di kantor. Kaget??????!!! Iyalah. ga ada persiapan apa-apa… dan saya hanya menjawab sebisa saya dengan penuh Percaya Diri walau Bahasa inggris belepotan karena shock tiba2 ditelpon dan yang kedua blank ga ada persiapan. terus saya disuruh nunggu lagi berita selanjutnya. Sampai pada akhirnya tanggal 18 September 2012 saya menerima email yang bunyinya:

Dear Nurfina Yudasari,

As per our phone conversation earlier, we would like to invite you for
a panel interview. This is part of the New Zealand ASEAN Awards
(NZ-AS) selection process.

The interview will be held at 9am on 19 September 2012 at New Zealand
Embassy,  Floor 10, Sentral Senayan 2 Building, Jakarta.

Please reply to this email to confirm your attendance. If you will not
be able to attend, please kindly inform us.

We look forward to seeing you on 19 September 2012.

Best wishes,

W.John Howe
Team Leader
NZ-AS Programme
Managed by PT Austraining Nusantara

(to be continued…)

Perjalanan panjang menuju “New Zealand” + Perjuangan ASIX (part 2)

Standar

Lama baru bisa melanjutkan cerita saya ini :)

beberapa yang menunggu, maafkan ya.. :)

Banyak sekali yang harus dikerjakan di sini. Kerja di Lab, menulis Thesis, mengurus anak dan suami juga. :)

So, sampai mana kemarin seritanya ya….. ehem… OK.

Jadilah saya menyiapkan semuua keperluan beasiswa itu. Saat itu kebetulan masih bulan November 2011. Saya saat itu sedang hamil 6 bulan. Saya menyiapkan pendaftaran Test IELTS, belajar untuk tes IELTS. Saya sempatkan juga mengikuti Les dan diklat Bahasa Inggris yang diadakan oleh LIPI, jadilah saya yang saat itu hamil 6 bulan ikut diklat Bahas Inggris di Puncak Bogor selama 3 mingguan. Lumayan berat juga secara duduk susah, tiduran enggak mungkin kan? :D. Malam harinya pun masih belajar, karena kelas dimulai pukul 6 dan 7 pagi (kadang jam 6 sudah mulai agar pelajaran hari sabtu cepat selesai dan beberapa rekan bisa pulang ke Jakarta untuk menemui anak istri/suami), dan selesai rata-rata jam 9 malam. Cukup melelahkan, namun saya memberi semangat pada diri saya bahwa ini bagian dari perjuangan dari apa yang saya inginkan. Alhamdulillah hasilnya tak terlalu mengecewakan, prestasi saya cukup bagus di kelas TOEFL prediction nya di atas 500 tapi ga sampe 550 sih. Padahal butuhnya 550.

Satu minggu setelah itu, saya memberanikan diri mengikuti tes TOEFL ITP di Universitas Indonesia Depok. Hasilnya? Failed. masih di bawah 550. Saat itu hamilnya udah lumayan gede yah 7 bulanan. Kemudian saya coba lagi, 1x lagi selang 1 bulan kemuadian rasanya (saya agak lupa). Masih di bawah 550! Saat itu saya mulai berpikir bahwa deadline beasiswa ini bulan April. sedangkan  2 bulan lagi, yakni bulan Februari, saya melahirkan, Sehingga saya berpikir STOP dulu saja untuk tes TOEFL nya. Saat itu saya juga mendapat kabar dari pihak panitia NZ-AS bahwa mereka menghendaki score IELTS bukan TOEFL ITP.  Jadi saat itu saya mulai berhenti belajar TOEFL dan mulai mengkoleksi buku-buku latihan Tes IELTS. Sambil menunggu dede bayi lahir, tiada hari tanpa mengerjakan soal-soal latihan IELTS. Saat itu target saya hanya 6.0 for overall band, karena saya berpikir bahwa saya hanya belajar otodidak (tanpa Les) dan target saya tembus beasiswanya dulu baru kemudian mengejar IELTS lagi untuk tembus University requirement nya.

7 februari 2012 saya melahirkan Andra. Bahagia, dan lega rasanya. Mengurus bayi menjadi kesibukan saya 2 minggu pertama. hanya mengurus bayi, saya tinggalkan IELTS dan semuanya.. fokus hanya pada Andra. Baru kemudian saya sadar jadwal Tes IELTS saya datang 2 minggu kemudian, saya mulai belajar lagi. Kali ini benar-benar sulit. belajar IELTS sambil mengurus bayi?Ingin mengundurkan jadwal Tes IELTS, namun tak mungkin, kenapa? karena jadwal Tes berikutnya sudah melampaui batas akhir beasiswa. OK, saya coba untuk tetap fokus ke belajar sembari merawat Andra yang masih usia 2 mingguan. Oh Ya. Andra ASI ekslusif loh. jadi walau saya fokus belajar saya juga menyusui, saya tidak mau gagal dalam memberi ASI-Ekslusif untuk Andra.

Seminggu sebelum Tes IELTS, saya mendapat kabar yang cukup mengejutkan dari kantor, bahwa saya (yang saat itu masih cuti melahirkan, masih punya jatah 1 bulan lagi) harus ikut diklat fungsional peneliti selamat kurang lebih 3 minggu di Cibinong Bogor. Kaget? Iya… sangat! Saya tanyakan alasannya, karena kemungkinan ini diklat fungsional peneliti tingkat pertama yang terakhir dalam 1-3 tahun ini karena LIPI menunda seleksi CPNS baru, dan kantor semi ‘memaksa’ saya untuk ikut. saya bingung, karena Hari Jumat (H-1 Test IELTS) saya harus ikut upacara pembukaan di Diklat di Bogor. Mana harus persiapan Andra, Oh iya Andra gimana dong? saat itu tabungan ASI perah andra baru sekitar 5 botol. padahal diklat 3 minggu. Saya membuat keputusan Membawa ANDRA Diklat!! Akhirnya 1 minggu tersebut saya persiapkan untuk: Cari Kost-an terdekat tempat diklat yang dilengkapi Kulkas (tempat simpan ASIP), AC (andra ga bisa tidur kalo kepanasan, andra keringatnya sangat banyak), dan kalau bisa dapur mini untuk manasin asip, dll. Kemudian saya komunikasi dengan panitia diklat bahwa saya harus mengikuti tes IELTS untuk keperluan sekolah lagi di Semarang jadi saya ijin hari Sabtu dan Minggu untuk Tes dan menjemput anak.

Tantangannya, Kamis malam saya berangkat sendiri, meninggalkan Andra yang belum pinter mimi ASIP. Saya cuma ninggalin 6 botol, dan deg2an mudah2an cukup…. Jumat pagi saya sampe cibinong, kemudian ikut upacara dan survei kost serta bayar kost tsb utk 1 bulan, Jumat siang saya udah di stasiun pasar senen lagi. Sepanjang hari itu saya mompa ASI (pake tangan) jungkir balik hehe… dari mulai di kamar, di mushola stasiun, d WC stasiun, di kereta, dimanapun.. karena saya harus dapat minimal 6 botol lagi untuk Andra saat ditinggal Sabtu Tes IELTS. Akhirnya…. saya sampe Tegal Pukul 7 malam hari Jumat… langsung nyusuin Andra, sampe ketiduran.. Sabtu dini hari jam 2 dibangunin Ibu karena harus berangkat ke Semarang lagi naik kereta… Sampe semarang jam 5 pagi di stasuin Tawang. baca2 lagi materi IELTS.. OMG… karena semua jadwal ini aku ga konsen mau Tes IELTS. Padahal harapan beasiswaku bergantung pada tes perdana IELTS ku ini… JAm 8 mulai Test nya….. wah, ga tau deh pokoknya berusaha yang terbaik aja… dan setelah usai semua tinggal pasrah… dan PULANG ke Tegal!

Capek.. ngos2an rasanya 3 hari diforsir tenaga dan pikirannya. SAbtu malam packing barangku dan Andra, kemudian minggu pagi berangkat ke Cibinong buat Diklat selama 3 minggu, bersama Andra dan utinya Andra…

(to be continued..)

Perjalanan panjang menuju “New Zealand” (part 1)

Standar

Saya tidak menyangka perjuangan saya menggapai keinginan melanjutkan program master (S2) berbuah manis. Berawal dari sebuah keinginan, dikuatkan dengan dukungan penuh serta restu dari suami tercinta, saya mulai mencari peluang melanjutkan study ke jenjang S2. Tentu saja, saya mencari peluang tersebut dengan didanai beasiswa, karena sulit rasanya mewujudkan mimpi bersekolah di program S2 dengan biaya sendiri, mengingat kebutuhan keluarga kami yang telah memiliki seorang anak yang sedang tumbuh, ditambah penghasilan saya sebagai PNS yang tidak mencukupi membiayai sendiri program S2 saya, walau hanya di Indonesia. Sedangkan dana dari suami tidak dapat saya manfaatkan sebagai sumber utama dana sekolah. Egois rasanya membayangkan saya memakai dana yang sudah suami jerih payahkan dengan tenaga dan pikirannya hanya untuk kepentingan saya sekolah.

Dahulu, ketika saya baru lulus program S1, saya sempat satu kali mencoba peruntungan menggapai beasiswa. Saat itu, pemberi dananya adalah Total E&P Indonesie. Program S2 yang dibuka adalah program master degree di bidang petroleum engineering di ITB, yang apabila pada masa kuliahnya berprestasi, bukan tidak mungkin penerima beasiswa tersebut mendapat lebih besar peluang untuk bekerja di pemberi dana, yakni Total. Sayangnya, saat itu saya belum beruntung. Entahlah, belum beruntung, atau mungkin memang belum layak memperoleh kesempatan itu. Saya sempat vakum  mencari peluang beasiswa saat itu. Ya, boleh dikatakan saya kecewa, sedih dan belum mampu mencoba di “tempat” yang sama. Takut sakit hati lagi. Akhirnya saya mencoba kesempatan bekerja terlebih dahulu, yang nampaknya lebih bersahabat. Saya sempat bekerja di PT Indonesia Epson Industri selama satu tahun, sebelum bekerja di tempat saat ini saya berlabuh selama hampir 3 tahun, Pusat Penelitian Fisika LIPI, sebagai peneliti.

Keinginan saya mencari beasiswa belum padam, malah semakin menguat semenjak saya bekerja di LIPI. Karena memang, support dari kantor begitu besarnya, malah seakan “memaksa” saya dan peneliti lain di kantor melanjutkan sekolah lagi. Berbagai macam pilihan beasiswa terus diupdate di lingkungan kantor, Jepang, Jerman, Australia, Amerika, Taiwan, Singapura, dan lain sebagainya negara yang “langganan” memberi beasiswa kepada pelajar-pelajar Indonesia. Hal itu memacu saya untuk terus menerus mencari info lebih lanjut peluang yang ada.

Di antara semua peluang dari negara besar yang ada, saya justru tertarik pada beasiswa “New Zealand – ASEAN Scholars Awards” . Ya. Sebuah peluang melanjutkan ke jenjang Post Graduate ke negara yang relatif kecil namun indah luar biasa, New Zealand atau Selandia Baru. Kenapa akhirnya pilihan saya adalah negara tersebut? Sebenarnya sederhana, yakni karena negara tersebut mengijinkan saya membawa keluarga saya dari awal kedatangan, dan memberika work visa untuk pendamping agar dapat bekerja secara legal. Untuk beberapa beasiswa, saya sulit mendapatkan fasilitas tersebut, karena kebanyakan mensyaratkan keluarga baru boleh datang pada tahun ke dua, atau pendamping hanya mendapatkan visitor visa saja. Saya ingin, suami bisa memperoleh “efek” positif dari award yang saya dapatkan, yakni bekerja secara legal di perusahaan internasional dan pastinya menjadi pengalaman bekerja yang berharga.

Dan akhirnya saya memantabkan hati memilih beasiswa tersebut. Saya mulai mencari-cari universitas yang saya minati, juga bidang riset yang sesuai dengan background pendidikan dan pekerjaan saya. Beberapa professor dan kontak internasional di universitas saya hubungi. Hingga akhirnya saya menemukan seorang professor dari Jurusan Fisika, Fakultas Sciences, University of Auckland yang bersedia dengan tangan terbuka menerima saya sebagai mahasiswa riset nya. Fakta yang seharusnya saya tahu di awal, malah baru saya ketahui setelah mendapatkan professor, adalah ternyata Jurusan fisika University of Auckland hanya mempunya satu jalur progrma M.Sc yakni Master by Research. Tadinya saya berpikir bisa jadi kemungkinan saya ambil 50%-50% course dan research, ternyata ini malah Riset 100%, selama satu tahun saja! Saya kaget, tapi cukup senang dan tertantang juga. Saya tidak harus berlama-lama meninggalkan Indonesia, tapi saya punya pengalaman full riset sebagai bekal menempuh S3. Dan terbayang sudah, datang di negara orang langsung menghadapi tantangan Proposal Riset, Wow…!

Jadilah saya menyiapkan semuua keperluan beasiswa itu. Saat itu kebetulan masih bulan Desember 2011. Saya saat itu sedang hamil 7 bulan. Saya menyiapkan pendaftaran Test IELTS, belajar untuk tes IELTS, 

 

To be continued….

Berawal dari sini…

Standar

Well, sedikit terlambat sebenarnya untuk menceritakan isi blog yang satu ini. Maklum, waktu hamil, saya males banget nulis. Entah kenapa? tapi sebenarnya saya senang sekali menulis blog. Hmm… padahal masa kehamilan saya kemarin cukup mendebarkan.. dengan 4x saya jatuh. Huuhhuhhuu.. T_T. Sekarang kalau liat Andra sudah lahir, dan betapa sehat dan cute nya dia, saya bersyukur sedalam2nya, mengingat kecerobohan2 saya waktu hamil, dan ternyata banyak bunda-bunda di luar sana yang tidak beruntung (sudah dengan sepenuh hati menjaga kehamilan, tapi tetap terkena musibah kehilangan janinnya, Naudzubillah…

Gambar

 

Kehamilan saya terhitung besar… dari usia 0 month – 9 month 10 days, BB saya naik 26 kg. WOW.. Bombastis kan? hehe.. Mungkin karena dari awal saya ga pake mabok yah… huuuhuuu istilah jawanya “hamilnya ngebo”. Makan terus. Dokter sempet curiga dgn BB saya yang sedemikian pesatnya naik… jangan2 diabetes. Cek darah => NORMAL. BB janin, dari uk 0 month – 7 months masih normal. Mulai disuruh diet pasca itu, sekitar hamil 30 minggu BB janin udah 2.8 kg. hehe Ga heran Andra lahir dengan BB 4.1 kg. fiuuhh….

Banyak hal penting di saat hamil Andra. Alhamdulillah, saya dinyatakan positif hamil oleh “Testpack” 14 hari setelah hari pernikahan saya, di Pusbindiklat Peneliti LIPI. hehe.. Maklum 4 hari pasca menikah langsung masuk “Karantina” Diklat Prajabatan syarat menjadi PNS. Tiap pagi bangun pagi, olah raga, apel, dan mengikuti kegiatan diklat, kondisi tubuhku fit, dan janin di rahimku Alhamdulillah tidak apa2 (maklum saya ga tau lagi mengandung). Padahal sempet lah 4x ikutan lari pagi sekitar 2-3 km. Barulah setelah 10 hari ikut diklat, aku iseng2 Testpack, karena… ehmm… ga tau ya. Feeling, bahwa saya merasa ga nyaman banget olah raga keras dan padat aktivitas tiap hari. saya ga nyaman, dan ngerasa takut kehilangan sesuatu, APA? saya juga ga tau… yg jelas saat testpack itu, saya belum telat datang bulan. Dan hasilnya…. 2 GARIS!! Congratulations! I was very happy at that time! Alhamdulillah… beribu-ribu puji syukur….

Gambar

Selama menjalani masa-masa kehamilan, saya banyak sendiri. Suami pulang tiap 1,5 – 2 bulan sekali karena kerja di kalimantan. Ya Allah… Alhamdulillah telah Engkau beri kemudahan dalam menjalani masa-masa kehamilan saya. Tak ada Mabok, Muntah, Manja, Ngidam, ataupun keluhan2 berarti. Saya dan sang janin tetap sehat sampai waktunya melahirkan.

 

Seperti saya bilang di awal, selama hamil, saya jatoh ada 4 kali an.
1. Jatoh di kantor uk 14 minggu. Posisi: telungkup (kesandung telepon)
2. Jatoh, keprosok di pinggiran tol Serang Barat waktu uk 20 minggu an. Itu karena Bus nya mogok, jadi terpaksa jalan mpe keluar pintu tol serang barat.
3. Jatoh di kamar mandi mertua uk 26 minggu an. Dan posisinya terlentang
4. Jatoh di bengkel waktu lagi serpis motor uk 30 minggu. Posisi: duduk. Saya langsung meluncur ke bidan buat priksa.. Alhamdulillah He was alright… fiuuhhh…

 

Subhanallah… memanglah betul Allah SWT sebaik-baiknya penjaga… Dia menjaga saya dan sang janin dari segala bahaya. Hingga akhirnya… saya dapat melahirkan dengan normal tidak kurang suatu apapun, pada tanggal 7 Februari 2012 pukul 01. 58 WIB. Dia bayi montok berukuran cukup besar BB 4.1 kg dan TB 50 cm, mendengarkan suara Adzan pertama kali dari ayahnya langsung setelah dilahirkan….

 

Aleandra Rasyid Azura, kami menamakan bayi itu. Harapan kami, bayi itu tumbuh menjadi lelaki yang sholeh, cerdas, dan tangguh menjalani hidupnya. *Amiiinnn…. Semoga Allah SWT berkenan mengabulkannya…

 

 

Bahagia, meski mungkin tak sebebas merpati…

Standar

14 Mei 2011

Boleh dibilang, tanggal tersebut merupakan hari yang termasuk paling membahagiakan sepanjang hidup saya. Hari pernikahan saya. Akhirnya saya menikah! dan…. pastinya banyak hal baru yang akan kami hadapi. Dengan meminta doa restu keduaa orang tua, kami mengucapkan janji suci bersama sehidup semati. Janji yang hanya Allah yang mampu memisahkan….

Gambar

Alhamdulillah, saya dinikahkan sediri oleh Bapak. Alhamdulillah puji syukur.. semua berjalan lancar…. Dia mengucapkan Ijab Kabul dengan lancar dan semua saksi men”SAH”kannya….

“….saya terima nikahnya Nurfina Yudasari binti Zainal Arifin dengan mas kawin   14 Dirham 5 Dirhamayn 11 Nisfu dan seperangkat alat sholat. TUNAI”

Subhanallah… bahagia rasanya saat itu.. mulai detik itu kami sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Detik itu adalah awal, saat ini waktu tengah berjalan. Kamis edang meniti jalan panjang perkawinan kami. Berlikunya jalan, cobaan yang kerap menghadang tak membuat kami surut langkah… Karena kami yakin itu semua tak lain dan tak bukan adalah Ujian serta Anugerah dari Allah SWT, agar rumah tangga yang kami bangun ini memiliki akar yang kokoh, batang yang tegar, serta rimbun menyejukkan dedaunannya menuju keluarga idaman Sakinah Mawaddah dan Rahmah. (Aamiinn…)

 

19 Desember 2012

1,5 tahun kami melalui waktu pernikahan kami. Allah telah menghadiahkan sesosok lelaki kecil yang tegar dan cerdas. Aleandra Rasyid Azura. Alhamdulillah Ya Rabb… Malaikat kecil yang engkau kirimkan itu menjadikan hati kami lebih dekat dan rumah tangga kami makin kokoh.. Amiiiinn….

2012-07-07-150

 

Hingga detik ini, kami belum bisa selalu tinggal bersama di rumah. Saya di Serpong dan suami jauh di seberang dan pelosok hutan borneo. Namun, kami tidak pernah berhenti berkomunikasi satu sama lain, baik via telepon, sms, dan whatsap. Puji Syukur, saya memiliki suami yang begitu pengertian dan perhatian. Dia tidak pernah keberatan saya bekerja, dia mendukung saya melanjutkan studi… bahkan berniat menemani saya di negeri orang ketika saya melanjutkan studi saya ke jenjang S2. Alhamdulillah.. Subhanallah…  Saya ingin kami maju bersama.. Insyallah… kami akan maju bersama.

 

I am Back

Standar

WOW…

Ternyata posting terakhir saya pada blog ini adalah hampir dua tahun yang lalu.. 9 Februari 2011. Bahkan saya belum menikah saat itu, sekarang saya sudah ganti status menjadi ibu pada tanggal ini, bulan ini dan tahun ini. Saya Rindu menulis…

Saya ingin bercerita banyak hal… banyak sekali…. OKE, saya arrange dulu ya saya mau nulis apa.
1. Pernikahan saya
2. Kehamilan saya
3. Melahirkan putra sholeh dan cerdas bernama Aleandra
4. Menerima sebuah Awards untuk melanjutkan sekolah

Howaa… nampaknya banyak sekali yang ingin saya ceritakan. Menulis, meninggalkan jejak berupa deretan panjang huruf yang menggoreskan kisah… Menulis, kegiatan yang malas sekali saya lakukan saat saya hamil.. haaaahh!

Saat ini saya sedih merenungkan blog multiply saya yang sudah terbumi hanguskan. begitu banyak kisah di blog itu. Walau sebagian besar, tentu saya masih mengingatnya…

tentangmu.multiply.com

Bukan hanya cerita di blog itu, tapi bagaimana blog itu menjadi saksi bagaimana saya menulis menangis tertawa tersenyum mengharubiru di tengah gelapnya malam, atau terangnya sebuah siang yang ceria. saya juga heran kenapa ya multiply jadi blog bisnis onlen begitu…
Hmm.. ya sudahlah relakan saja. Toh, awal saya menulis di situ adalah untuk mengungkapkan pesan terpendam. Pesannya sudah tersampaikan, dan sudah sampai pada akhir cerita ketika si penerima pesan sudah bersikap setelah menerima pesan dari saya. Sekian.

Hehe…
Back to this blog again. I’ll try to write again. karena ketika sudah di New Zealand tahun depan, nampaknya semua kisah harus dituangkan di suatu media, dan blog nampaknya paling sesuai. secara, pasti banyak pihak yang pengen tahu tentang gimana si New zealand itu? tempat2 apa yang asyiik untuk dikunjungi? Biaya hidupnya?

oooppss… kenapa New Zealand?
Mari kita tunggu pada tulisan saya edisi berikutnya.

Siii Yaah!!
Naitz… :)

(See you… Good Night)