Perjalanan panjang menuju “New Zealand” (part 1)

Standar

Saya tidak menyangka perjuangan saya menggapai keinginan melanjutkan program master (S2) berbuah manis. Berawal dari sebuah keinginan, dikuatkan dengan dukungan penuh serta restu dari suami tercinta, saya mulai mencari peluang melanjutkan study ke jenjang S2. Tentu saja, saya mencari peluang tersebut dengan didanai beasiswa, karena sulit rasanya mewujudkan mimpi bersekolah di program S2 dengan biaya sendiri, mengingat kebutuhan keluarga kami yang telah memiliki seorang anak yang sedang tumbuh, ditambah penghasilan saya sebagai PNS yang tidak mencukupi membiayai sendiri program S2 saya, walau hanya di Indonesia. Sedangkan dana dari suami tidak dapat saya manfaatkan sebagai sumber utama dana sekolah. Egois rasanya membayangkan saya memakai dana yang sudah suami jerih payahkan dengan tenaga dan pikirannya hanya untuk kepentingan saya sekolah.

Dahulu, ketika saya baru lulus program S1, saya sempat satu kali mencoba peruntungan menggapai beasiswa. Saat itu, pemberi dananya adalah Total E&P Indonesie. Program S2 yang dibuka adalah program master degree di bidang petroleum engineering di ITB, yang apabila pada masa kuliahnya berprestasi, bukan tidak mungkin penerima beasiswa tersebut mendapat lebih besar peluang untuk bekerja di pemberi dana, yakni Total. Sayangnya, saat itu saya belum beruntung. Entahlah, belum beruntung, atau mungkin memang belum layak memperoleh kesempatan itu. Saya sempat vakum  mencari peluang beasiswa saat itu. Ya, boleh dikatakan saya kecewa, sedih dan belum mampu mencoba di “tempat” yang sama. Takut sakit hati lagi. Akhirnya saya mencoba kesempatan bekerja terlebih dahulu, yang nampaknya lebih bersahabat. Saya sempat bekerja di PT Indonesia Epson Industri selama satu tahun, sebelum bekerja di tempat saat ini saya berlabuh selama hampir 3 tahun, Pusat Penelitian Fisika LIPI, sebagai peneliti.

Keinginan saya mencari beasiswa belum padam, malah semakin menguat semenjak saya bekerja di LIPI. Karena memang, support dari kantor begitu besarnya, malah seakan “memaksa” saya dan peneliti lain di kantor melanjutkan sekolah lagi. Berbagai macam pilihan beasiswa terus diupdate di lingkungan kantor, Jepang, Jerman, Australia, Amerika, Taiwan, Singapura, dan lain sebagainya negara yang “langganan” memberi beasiswa kepada pelajar-pelajar Indonesia. Hal itu memacu saya untuk terus menerus mencari info lebih lanjut peluang yang ada.

Di antara semua peluang dari negara besar yang ada, saya justru tertarik pada beasiswa “New Zealand – ASEAN Scholars Awards” . Ya. Sebuah peluang melanjutkan ke jenjang Post Graduate ke negara yang relatif kecil namun indah luar biasa, New Zealand atau Selandia Baru. Kenapa akhirnya pilihan saya adalah negara tersebut? Sebenarnya sederhana, yakni karena negara tersebut mengijinkan saya membawa keluarga saya dari awal kedatangan, dan memberika work visa untuk pendamping agar dapat bekerja secara legal. Untuk beberapa beasiswa, saya sulit mendapatkan fasilitas tersebut, karena kebanyakan mensyaratkan keluarga baru boleh datang pada tahun ke dua, atau pendamping hanya mendapatkan visitor visa saja. Saya ingin, suami bisa memperoleh “efek” positif dari award yang saya dapatkan, yakni bekerja secara legal di perusahaan internasional dan pastinya menjadi pengalaman bekerja yang berharga.

Dan akhirnya saya memantabkan hati memilih beasiswa tersebut. Saya mulai mencari-cari universitas yang saya minati, juga bidang riset yang sesuai dengan background pendidikan dan pekerjaan saya. Beberapa professor dan kontak internasional di universitas saya hubungi. Hingga akhirnya saya menemukan seorang professor dari Jurusan Fisika, Fakultas Sciences, University of Auckland yang bersedia dengan tangan terbuka menerima saya sebagai mahasiswa riset nya. Fakta yang seharusnya saya tahu di awal, malah baru saya ketahui setelah mendapatkan professor, adalah ternyata Jurusan fisika University of Auckland hanya mempunya satu jalur progrma M.Sc yakni Master by Research. Tadinya saya berpikir bisa jadi kemungkinan saya ambil 50%-50% course dan research, ternyata ini malah Riset 100%, selama satu tahun saja! Saya kaget, tapi cukup senang dan tertantang juga. Saya tidak harus berlama-lama meninggalkan Indonesia, tapi saya punya pengalaman full riset sebagai bekal menempuh S3. Dan terbayang sudah, datang di negara orang langsung menghadapi tantangan Proposal Riset, Wow…!

Jadilah saya menyiapkan semuua keperluan beasiswa itu. Saat itu kebetulan masih bulan Desember 2011. Saya saat itu sedang hamil 7 bulan. Saya menyiapkan pendaftaran Test IELTS, belajar untuk tes IELTS, 

 

To be continued….

Berawal dari sini…

Standar

Well, sedikit terlambat sebenarnya untuk menceritakan isi blog yang satu ini. Maklum, waktu hamil, saya males banget nulis. Entah kenapa? tapi sebenarnya saya senang sekali menulis blog. Hmm… padahal masa kehamilan saya kemarin cukup mendebarkan.. dengan 4x saya jatuh. Huuhhuhhuu.. T_T. Sekarang kalau liat Andra sudah lahir, dan betapa sehat dan cute nya dia, saya bersyukur sedalam2nya, mengingat kecerobohan2 saya waktu hamil, dan ternyata banyak bunda-bunda di luar sana yang tidak beruntung (sudah dengan sepenuh hati menjaga kehamilan, tapi tetap terkena musibah kehilangan janinnya, Naudzubillah…

Gambar

 

Kehamilan saya terhitung besar… dari usia 0 month – 9 month 10 days, BB saya naik 26 kg. WOW.. Bombastis kan? hehe.. Mungkin karena dari awal saya ga pake mabok yah… huuuhuuu istilah jawanya “hamilnya ngebo”. Makan terus. Dokter sempet curiga dgn BB saya yang sedemikian pesatnya naik… jangan2 diabetes. Cek darah => NORMAL. BB janin, dari uk 0 month – 7 months masih normal. Mulai disuruh diet pasca itu, sekitar hamil 30 minggu BB janin udah 2.8 kg. hehe Ga heran Andra lahir dengan BB 4.1 kg. fiuuhh….

Banyak hal penting di saat hamil Andra. Alhamdulillah, saya dinyatakan positif hamil oleh “Testpack” 14 hari setelah hari pernikahan saya, di Pusbindiklat Peneliti LIPI. hehe.. Maklum 4 hari pasca menikah langsung masuk “Karantina” Diklat Prajabatan syarat menjadi PNS. Tiap pagi bangun pagi, olah raga, apel, dan mengikuti kegiatan diklat, kondisi tubuhku fit, dan janin di rahimku Alhamdulillah tidak apa2 (maklum saya ga tau lagi mengandung). Padahal sempet lah 4x ikutan lari pagi sekitar 2-3 km. Barulah setelah 10 hari ikut diklat, aku iseng2 Testpack, karena… ehmm… ga tau ya. Feeling, bahwa saya merasa ga nyaman banget olah raga keras dan padat aktivitas tiap hari. saya ga nyaman, dan ngerasa takut kehilangan sesuatu, APA? saya juga ga tau… yg jelas saat testpack itu, saya belum telat datang bulan. Dan hasilnya…. 2 GARIS!! Congratulations! I was very happy at that time! Alhamdulillah… beribu-ribu puji syukur….

Gambar

Selama menjalani masa-masa kehamilan, saya banyak sendiri. Suami pulang tiap 1,5 – 2 bulan sekali karena kerja di kalimantan. Ya Allah… Alhamdulillah telah Engkau beri kemudahan dalam menjalani masa-masa kehamilan saya. Tak ada Mabok, Muntah, Manja, Ngidam, ataupun keluhan2 berarti. Saya dan sang janin tetap sehat sampai waktunya melahirkan.

 

Seperti saya bilang di awal, selama hamil, saya jatoh ada 4 kali an.
1. Jatoh di kantor uk 14 minggu. Posisi: telungkup (kesandung telepon)
2. Jatoh, keprosok di pinggiran tol Serang Barat waktu uk 20 minggu an. Itu karena Bus nya mogok, jadi terpaksa jalan mpe keluar pintu tol serang barat.
3. Jatoh di kamar mandi mertua uk 26 minggu an. Dan posisinya terlentang
4. Jatoh di bengkel waktu lagi serpis motor uk 30 minggu. Posisi: duduk. Saya langsung meluncur ke bidan buat priksa.. Alhamdulillah He was alright… fiuuhhh…

 

Subhanallah… memanglah betul Allah SWT sebaik-baiknya penjaga… Dia menjaga saya dan sang janin dari segala bahaya. Hingga akhirnya… saya dapat melahirkan dengan normal tidak kurang suatu apapun, pada tanggal 7 Februari 2012 pukul 01. 58 WIB. Dia bayi montok berukuran cukup besar BB 4.1 kg dan TB 50 cm, mendengarkan suara Adzan pertama kali dari ayahnya langsung setelah dilahirkan….

 

Aleandra Rasyid Azura, kami menamakan bayi itu. Harapan kami, bayi itu tumbuh menjadi lelaki yang sholeh, cerdas, dan tangguh menjalani hidupnya. *Amiiinnn…. Semoga Allah SWT berkenan mengabulkannya…

 

 

Bahagia, meski mungkin tak sebebas merpati…

Standar

14 Mei 2011

Boleh dibilang, tanggal tersebut merupakan hari yang termasuk paling membahagiakan sepanjang hidup saya. Hari pernikahan saya. Akhirnya saya menikah! dan…. pastinya banyak hal baru yang akan kami hadapi. Dengan meminta doa restu keduaa orang tua, kami mengucapkan janji suci bersama sehidup semati. Janji yang hanya Allah yang mampu memisahkan….

Gambar

Alhamdulillah, saya dinikahkan sediri oleh Bapak. Alhamdulillah puji syukur.. semua berjalan lancar…. Dia mengucapkan Ijab Kabul dengan lancar dan semua saksi men”SAH”kannya….

“….saya terima nikahnya Nurfina Yudasari binti Zainal Arifin dengan mas kawin   14 Dirham 5 Dirhamayn 11 Nisfu dan seperangkat alat sholat. TUNAI”

Subhanallah… bahagia rasanya saat itu.. mulai detik itu kami sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Detik itu adalah awal, saat ini waktu tengah berjalan. Kamis edang meniti jalan panjang perkawinan kami. Berlikunya jalan, cobaan yang kerap menghadang tak membuat kami surut langkah… Karena kami yakin itu semua tak lain dan tak bukan adalah Ujian serta Anugerah dari Allah SWT, agar rumah tangga yang kami bangun ini memiliki akar yang kokoh, batang yang tegar, serta rimbun menyejukkan dedaunannya menuju keluarga idaman Sakinah Mawaddah dan Rahmah. (Aamiinn…)

 

19 Desember 2012

1,5 tahun kami melalui waktu pernikahan kami. Allah telah menghadiahkan sesosok lelaki kecil yang tegar dan cerdas. Aleandra Rasyid Azura. Alhamdulillah Ya Rabb… Malaikat kecil yang engkau kirimkan itu menjadikan hati kami lebih dekat dan rumah tangga kami makin kokoh.. Amiiiinn….

2012-07-07-150

 

Hingga detik ini, kami belum bisa selalu tinggal bersama di rumah. Saya di Serpong dan suami jauh di seberang dan pelosok hutan borneo. Namun, kami tidak pernah berhenti berkomunikasi satu sama lain, baik via telepon, sms, dan whatsap. Puji Syukur, saya memiliki suami yang begitu pengertian dan perhatian. Dia tidak pernah keberatan saya bekerja, dia mendukung saya melanjutkan studi… bahkan berniat menemani saya di negeri orang ketika saya melanjutkan studi saya ke jenjang S2. Alhamdulillah.. Subhanallah…  Saya ingin kami maju bersama.. Insyallah… kami akan maju bersama.

 

I am Back

Standar

WOW…

Ternyata posting terakhir saya pada blog ini adalah hampir dua tahun yang lalu.. 9 Februari 2011. Bahkan saya belum menikah saat itu, sekarang saya sudah ganti status menjadi ibu pada tanggal ini, bulan ini dan tahun ini. Saya Rindu menulis…

Saya ingin bercerita banyak hal… banyak sekali…. OKE, saya arrange dulu ya saya mau nulis apa.
1. Pernikahan saya
2. Kehamilan saya
3. Melahirkan putra sholeh dan cerdas bernama Aleandra
4. Menerima sebuah Awards untuk melanjutkan sekolah

Howaa… nampaknya banyak sekali yang ingin saya ceritakan. Menulis, meninggalkan jejak berupa deretan panjang huruf yang menggoreskan kisah… Menulis, kegiatan yang malas sekali saya lakukan saat saya hamil.. haaaahh!

Saat ini saya sedih merenungkan blog multiply saya yang sudah terbumi hanguskan. begitu banyak kisah di blog itu. Walau sebagian besar, tentu saya masih mengingatnya…

tentangmu.multiply.com

Bukan hanya cerita di blog itu, tapi bagaimana blog itu menjadi saksi bagaimana saya menulis menangis tertawa tersenyum mengharubiru di tengah gelapnya malam, atau terangnya sebuah siang yang ceria. saya juga heran kenapa ya multiply jadi blog bisnis onlen begitu…
Hmm.. ya sudahlah relakan saja. Toh, awal saya menulis di situ adalah untuk mengungkapkan pesan terpendam. Pesannya sudah tersampaikan, dan sudah sampai pada akhir cerita ketika si penerima pesan sudah bersikap setelah menerima pesan dari saya. Sekian.

Hehe…
Back to this blog again. I’ll try to write again. karena ketika sudah di New Zealand tahun depan, nampaknya semua kisah harus dituangkan di suatu media, dan blog nampaknya paling sesuai. secara, pasti banyak pihak yang pengen tahu tentang gimana si New zealand itu? tempat2 apa yang asyiik untuk dikunjungi? Biaya hidupnya?

oooppss… kenapa New Zealand?
Mari kita tunggu pada tulisan saya edisi berikutnya.

Siii Yaah!!
Naitz… :)

(See you… Good Night)

Peneliti atau apalah namanya

Standar

Hai. Siang!

Sebuah siang yang mendung… Hmm.. Kapan toh Serpong (baca: Puspiptek) ga mendung gini…. Ruang ini juga. Brrr… AC nya kenceng. Mau dikecilin tapi ga enak sama senior yang nampaknya masih nyaman saja dengan suhu ruangan yang seperti ini. Atau memang saya yang katrok? Haha…

Nice! siang ini ga ada atasan yang entah sedang kemana.. Hmm.. jadi siag ini nampaknya saya hanya mempunyai tugas seikit yang alhamdulillah sudah kelar sejak jam 2. Jadi, dari jam 2 sampai pulang nanti seperti nya saya merasa bukan sebagai peneliti. Haha.. maklum, hanya Ng’blog dan FB an saja. Super duper mengantuk saya. sampai harus senam muka. Hehe….

Tapi, jikalaupun “sedang kerja” atau istilahnya “sedang benar-benar” ada kerjaan, sepertinya juga tidak terlalu berbeda dengan “tidak ada kerjaan”. Istilahnya, mungkin dari luar terlihat pekerjaan saya hanya itu2 saja, atau terlihat tidak ada pekerjaan. Yah.. sebenarnya ada juga pekerjaan, tapi memang tidak banyak dan nampak campur aduk mana pekerjaan si A mana pekerjaan si B, C, D dst…. Seperti sekarang, saya juga bingung, saya ini peneliti? admin? atau teknisi? hehe… saya sih katanya peneliti, tapi kok ya ngurusin mulai dari pemesanan barang, kontak sales, pusing2 bikin spec.. dan saya juga jarang nge’Lab. haaaaa…. peneliti macam apa pula itu. :P . tapi ya sudahlah.. mungkin karena saya masih junior, jadi harus merasakan menjadi semua bagian ya? Kuncinya sabar mungkin.. and do the best. lakukan yang terbaik….

finnaly, i am engaged

Standar

dua tahun yang lalu, di Gubug Caffe Yogyakarta pertama kali kami ketemu. saat itu kami hanya dua orang yang mencari ‘teman’ untuk saling berbagi. pertama bertemu…. kami tidak merasakan Love at the first sight! Biasa aja. Komentar dia: fina? tinggi, manis juga, ‘berisi’ (@$%&(*^$) emangnya karung apa yah berisi.. :D . komentarku? dia? cukup manis, baik, pendiam, biasa aja…. hehe… :D

tapi…. tekad kami bulat: “mulai membuka diri”

jadi… entahlah. kenapa juga aku mau diajakin jalan2 di pantai besoknya. dari krakal… sundak… kukup. wow… amazing! and tiring.. haha…. yang pasti seberapapun amazing atau indahnya pantai2 itu….. ga bisa mengalahkan amazing nya kejadian2 di sana. kami jadian. “kenapa dia ngajak jadian?” “kenapa aku nerima dia?” “apa perasaan dia padaku saat itu” . aku enggak tau kenapa. biarkanlah jadi misteri, karena setiap aku tanya ke dia… selalu aja dijawab dengan “Enggak tahu” bosan jadinya. jadi.. ya sudahlah biarkan saja jadi misteri. Karena sejujurnya saat itu dia mengajak aku menjadi pacarnya tanpa ba bi bu… tanpa kata2 cinta.. hanya… “dari pada hubungan kita nggantung enggak jelas, mendingan jaian yuk?. sebuah kebodohan yang manis pun terjadi saat aku bilang “OKE”

sesederhana itu. dan alhamdulillah bertahan dua tahun hingga kini. akhirnya, kami berdua berani tuk beranjak ke jenjang yang lebih “resmi” di depan orang tua. lebih serius. engagement. walau sekali lagi tanpa kata-kata romantis yang meluluhkan hati. tanpa adegan mesra layaknya di film2. biasa saja. “tanggal 23 Januari Bapak Ibu mau ke tempat adek…” hanya itu!

Bismillah…. kami sedang mempersiapkan diri tuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. menyiapkan diri lahir dan bathin. memohon doa restu orang tua… keluarga… kawan kawan….

“Terimakasih kau terima
Pertunangan indah ini
Bahagia meski mungkin
Tak sebebas merpati….”

 

Cerita di Sepenggal Perjalananku

Standar

Siang ini aku duduk di sebuah bangku kayu stasiun Solo Balapan, sembari menanti kereta
Banyubiru yang akan membawaku ke Semarang. Aku sedang melihat-lihat dan menikmati
suasana yang ada di sekitarku ketika pandanganku mampir pada seorang bapak pegawai Kereta
Api yang tengah duduk mengobrol dgn beberapa pedagang asongan. Sesaat, dia menyadari arah
pandanganku kepadanya. Dia malah tersenyum padaku dan berjalan mendekatiku.
Jika dilihat, ku taksir bapak itu sepertinya sudah brusia skitar 50 tahunan. Beliau
kemudian trsenyum dngan ramah dan menyapaku dengan pertanyaan standar, “mau kemana
mbak?” kemudian dilanjutkan dengan pertnyaan lain yang ya.. cukup standar untuk membuka
sebuah obrolan di stasiun, berkisar tentang kereta api, kota asal, kuliah, hingga tibalah saat ia
bercerita tentang keluarga.
Ketika itulah, akhirnya aku mengetahui bahwa beliau adalah ayahanda dari Bagus Dwi
seorang kameramen ‘Jejak Petualang’ yang hilang di papua sekitar 3 tahun silam. Beliau
menceritakan bagaimana perahu boat yang dtumpangi anakny terbalik hingga usahanya mencari
anaknya di laut daerah papua. Beliau juga mengisahkan sifat anaknya, dan hobi anaknya yang
memang menarik itu, gemar brkegiatan alam. Bulan juli yang lalu adalah upacara peringatan 3
tahun hilangnya bagus yang digelar oleh Trans 7. Beliau datang ke sana dengan rasa haru, walau
masih brtanya-tanya.. “Masih hidupkah Bagus? Atau sudah sudah kembali ke pangkuan Tuhan?
Beliau sudah pasrah, karena semua hal pasti kembali ke sang Pencipta, Pemilik semua yang ada
di alam semesta. Aku termenung mendegar cerita beliau. Terharu. Karena dahulu aku hanya
mendengar kisah itu dari pembawa acara d televisi. Ketika aku brcerita bahwa aku mempunyai
minat di bidang jurnalistik dan sudah melamar di beberapa stasiun TV nasional, beliau
mendukung. Tidak ada dendam dalam kata-katanya walau anaknya sudah hilang karena
pekerjaan di dunia tersebut. Beliau berkata bahwa, dunia jurnalis penuh dengan tantangan,
menarik, dan membuat kita terus berkembang dan kreatif.
Keretaku datang, dan akhirnya aku harus mengucapkan salam perpisahan. Beliau
menyalamiku dan berkata semoga sukses di awal masa-masaku berkarir, terutama di dunia
jurnalis. Salut sama bapak. Mungkin waktu tiga tahun telah menyembuhkan luka beliau, dan kini
ia tetap tegar walau tetap menunggu anaknya pulang ke rumah seperti dahulu.
_Solo Balapan 1 Agustus 2009_