Saya tidak menyangka perjuangan saya menggapai keinginan melanjutkan program master (S2) berbuah manis. Berawal dari sebuah keinginan, dikuatkan dengan dukungan penuh serta restu dari suami tercinta, saya mulai mencari peluang melanjutkan study ke jenjang S2. Tentu saja, saya mencari peluang tersebut dengan didanai beasiswa, karena sulit rasanya mewujudkan mimpi bersekolah di program S2 dengan biaya sendiri, mengingat kebutuhan keluarga kami yang telah memiliki seorang anak yang sedang tumbuh, ditambah penghasilan saya sebagai PNS yang tidak mencukupi membiayai sendiri program S2 saya, walau hanya di Indonesia. Sedangkan dana dari suami tidak dapat saya manfaatkan sebagai sumber utama dana sekolah. Egois rasanya membayangkan saya memakai dana yang sudah suami jerih payahkan dengan tenaga dan pikirannya hanya untuk kepentingan saya sekolah.
Dahulu, ketika saya baru lulus program S1, saya sempat satu kali mencoba peruntungan menggapai beasiswa. Saat itu, pemberi dananya adalah Total E&P Indonesie. Program S2 yang dibuka adalah program master degree di bidang petroleum engineering di ITB, yang apabila pada masa kuliahnya berprestasi, bukan tidak mungkin penerima beasiswa tersebut mendapat lebih besar peluang untuk bekerja di pemberi dana, yakni Total. Sayangnya, saat itu saya belum beruntung. Entahlah, belum beruntung, atau mungkin memang belum layak memperoleh kesempatan itu. Saya sempat vakum mencari peluang beasiswa saat itu. Ya, boleh dikatakan saya kecewa, sedih dan belum mampu mencoba di “tempat” yang sama. Takut sakit hati lagi. Akhirnya saya mencoba kesempatan bekerja terlebih dahulu, yang nampaknya lebih bersahabat. Saya sempat bekerja di PT Indonesia Epson Industri selama satu tahun, sebelum bekerja di tempat saat ini saya berlabuh selama hampir 3 tahun, Pusat Penelitian Fisika LIPI, sebagai peneliti.
Keinginan saya mencari beasiswa belum padam, malah semakin menguat semenjak saya bekerja di LIPI. Karena memang, support dari kantor begitu besarnya, malah seakan “memaksa” saya dan peneliti lain di kantor melanjutkan sekolah lagi. Berbagai macam pilihan beasiswa terus diupdate di lingkungan kantor, Jepang, Jerman, Australia, Amerika, Taiwan, Singapura, dan lain sebagainya negara yang “langganan” memberi beasiswa kepada pelajar-pelajar Indonesia. Hal itu memacu saya untuk terus menerus mencari info lebih lanjut peluang yang ada.
Di antara semua peluang dari negara besar yang ada, saya justru tertarik pada beasiswa “New Zealand – ASEAN Scholars Awards” . Ya. Sebuah peluang melanjutkan ke jenjang Post Graduate ke negara yang relatif kecil namun indah luar biasa, New Zealand atau Selandia Baru. Kenapa akhirnya pilihan saya adalah negara tersebut? Sebenarnya sederhana, yakni karena negara tersebut mengijinkan saya membawa keluarga saya dari awal kedatangan, dan memberika work visa untuk pendamping agar dapat bekerja secara legal. Untuk beberapa beasiswa, saya sulit mendapatkan fasilitas tersebut, karena kebanyakan mensyaratkan keluarga baru boleh datang pada tahun ke dua, atau pendamping hanya mendapatkan visitor visa saja. Saya ingin, suami bisa memperoleh “efek” positif dari award yang saya dapatkan, yakni bekerja secara legal di perusahaan internasional dan pastinya menjadi pengalaman bekerja yang berharga.
Dan akhirnya saya memantabkan hati memilih beasiswa tersebut. Saya mulai mencari-cari universitas yang saya minati, juga bidang riset yang sesuai dengan background pendidikan dan pekerjaan saya. Beberapa professor dan kontak internasional di universitas saya hubungi. Hingga akhirnya saya menemukan seorang professor dari Jurusan Fisika, Fakultas Sciences, University of Auckland yang bersedia dengan tangan terbuka menerima saya sebagai mahasiswa riset nya. Fakta yang seharusnya saya tahu di awal, malah baru saya ketahui setelah mendapatkan professor, adalah ternyata Jurusan fisika University of Auckland hanya mempunya satu jalur progrma M.Sc yakni Master by Research. Tadinya saya berpikir bisa jadi kemungkinan saya ambil 50%-50% course dan research, ternyata ini malah Riset 100%, selama satu tahun saja! Saya kaget, tapi cukup senang dan tertantang juga. Saya tidak harus berlama-lama meninggalkan Indonesia, tapi saya punya pengalaman full riset sebagai bekal menempuh S3. Dan terbayang sudah, datang di negara orang langsung menghadapi tantangan Proposal Riset, Wow…!
Jadilah saya menyiapkan semuua keperluan beasiswa itu. Saat itu kebetulan masih bulan Desember 2011. Saya saat itu sedang hamil 7 bulan. Saya menyiapkan pendaftaran Test IELTS, belajar untuk tes IELTS,
To be continued….






